<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: beyonce-jakarata.jpg</title>
	<atom:link href="http://www.fadedyouthblog.com/13996/beyonce-says-selamat-pagi-to-indonesia/beyonce-jakaratajpg/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.fadedyouthblog.com/13996/beyonce-says-selamat-pagi-to-indonesia/beyonce-jakaratajpg/</link>
	<description>Celebrity Terrorist</description>
	<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 20:13:31 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
		<item>
		<title>By: hozaini</title>
		<link>http://www.fadedyouthblog.com/13996/beyonce-says-selamat-pagi-to-indonesia/beyonce-jakaratajpg/#comment-165047</link>
		<dc:creator>hozaini</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 05:42:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.fadedyouthblog.com/wp-content/uploads/2007/10/beyonce-jakarata.jpg#comment-165047</guid>
		<description>SUARA PENSIL
oleh : Hozaini

Di ujung pisau pena tumpul
Menari terangkai sinopsis di kertas masa
Ada senyum menyendir kita
Ada derita mengajari memetik makna
Ada tanya tentang kehidupan
Ada Tanya tentang zaman
Idealnya pemikiran sepertia apa
Idealnya seniman
Merangkai keindahan penderiataan kesenangan
Seperti instant apa
Rekradasi budaya hadir di mata kita
Seakan tak ada kehadiran
Hasil cipta, rasa, dan karsa
Simpati sekarang berorentasi pada keunggulan apa
Bila intelek tercermin produk dusta dalam bahasa
Empati sekarang mengedepankan nilai apa
Apabila moral dalam normatif hidup
Tidak pernah di lestarikan
Dalam mental pribadi berbudaya
Sadarlah kita tidak hidup di alam binatang
Yang hanya komersil
Demi nafsu karier dan propesi
Setiap nafas punya harga diri
Tapi uang bukan mutlak jaminan kehidupan
Spirit mental sosial adalah tunas kemanusiaan
Mencipta rasa nyaman dan aman
Menuju kesejahteraan milik kita
Jangan pernah mengukur kehendak
Pada masyarakat yang tersampahkan pengetahuan
Memang homogen asas pancasila kita
Tapi bukan untuk wajah seni dan budaya
Untuk membalik mata heterogen zaman modern
Masih ingtkah kita
Tahun 70an bangsa ini bertikai
Demi hidup rukun dalam perbedaan agama
Kenapa sekarang
Hanya demi kepentingan
Porforment seni, karier dan profesi
Hingga angkuh merubah kaligrafi budaya
Kami tak rela
Walau suara kami hanya terdengar
Dalam ceceran air mata pensil
Bila dinamisnya seni
Hanya hadir
Sebagai wahana komersialisasi
Dalam dekorasi artistik seni
Sebab semua ini
Meracuni simpati dan empati
Nilai uang menjadi substansi
Tapi ini bukan untuk pembanggunan
Bahkan membangun kebersamaan
Justru kehidupan personal dan individual
Melahirkan budaya kehidupan
Demi kpentingan kapitalisme
Manusia bermodal
Menjadi raja meraih kemenangan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>SUARA PENSIL<br />
oleh : Hozaini</p>
<p>Di ujung pisau pena tumpul<br />
Menari terangkai sinopsis di kertas masa<br />
Ada senyum menyendir kita<br />
Ada derita mengajari memetik makna<br />
Ada tanya tentang kehidupan<br />
Ada Tanya tentang zaman<br />
Idealnya pemikiran sepertia apa<br />
Idealnya seniman<br />
Merangkai keindahan penderiataan kesenangan<br />
Seperti instant apa<br />
Rekradasi budaya hadir di mata kita<br />
Seakan tak ada kehadiran<br />
Hasil cipta, rasa, dan karsa<br />
Simpati sekarang berorentasi pada keunggulan apa<br />
Bila intelek tercermin produk dusta dalam bahasa<br />
Empati sekarang mengedepankan nilai apa<br />
Apabila moral dalam normatif hidup<br />
Tidak pernah di lestarikan<br />
Dalam mental pribadi berbudaya<br />
Sadarlah kita tidak hidup di alam binatang<br />
Yang hanya komersil<br />
Demi nafsu karier dan propesi<br />
Setiap nafas punya harga diri<br />
Tapi uang bukan mutlak jaminan kehidupan<br />
Spirit mental sosial adalah tunas kemanusiaan<br />
Mencipta rasa nyaman dan aman<br />
Menuju kesejahteraan milik kita<br />
Jangan pernah mengukur kehendak<br />
Pada masyarakat yang tersampahkan pengetahuan<br />
Memang homogen asas pancasila kita<br />
Tapi bukan untuk wajah seni dan budaya<br />
Untuk membalik mata heterogen zaman modern<br />
Masih ingtkah kita<br />
Tahun 70an bangsa ini bertikai<br />
Demi hidup rukun dalam perbedaan agama<br />
Kenapa sekarang<br />
Hanya demi kepentingan<br />
Porforment seni, karier dan profesi<br />
Hingga angkuh merubah kaligrafi budaya<br />
Kami tak rela<br />
Walau suara kami hanya terdengar<br />
Dalam ceceran air mata pensil<br />
Bila dinamisnya seni<br />
Hanya hadir<br />
Sebagai wahana komersialisasi<br />
Dalam dekorasi artistik seni<br />
Sebab semua ini<br />
Meracuni simpati dan empati<br />
Nilai uang menjadi substansi<br />
Tapi ini bukan untuk pembanggunan<br />
Bahkan membangun kebersamaan<br />
Justru kehidupan personal dan individual<br />
Melahirkan budaya kehidupan<br />
Demi kpentingan kapitalisme<br />
Manusia bermodal<br />
Menjadi raja meraih kemenangan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
